Bogor Agricultural University (IPB)
Bogor Agricultural University (IPB)
IPB Badge

MK. Pengembangan Masyarakat                     Hari/ Tanggal: Jumat/ 14 Mei 2010

Praktikum ke-9                                                            Ruang             : Rabuan

Topik:

STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN DAN JEJARING UNTUK PENGEMBANGAN MASYARAKAT

Bahan Bacaan:

Pemberdayaan Tenaga Kerja Migran dan

Kelembagaan Koperasi dalam Pembangunan Pedesaan

(Fredian Tonny Nasdian)

Asisten Praktikum:

Sriwulan Ferindian Falatehan

Praktikan/ NIM:

Debbie Luciani Prastiwi/ I34080059

1. Faktor-faktor yang memperkuat dan memperlemah gagasan “pemberdayaan tenaga kerja migran dan kelembagaan koperasi dalam pembangunan pedesaan”:

Faktor-Faktor yang Memperkuat Faktor-Faktor yang Memperlemah
* Adanya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang diantaranya mengatur mengenai otonomi daerah dan desa.

* Fasilitasi dari pemerintah daerah, dinas-dinas sektoral, pemerintah kecamatan, dan tokoh-tokoh masyarakat (tuan-guru), warga komunitas di tingkat dusun (kilang).

* Sentralistis dan peran pemerintah yang sangat dominan.

* Belum terdapat orientasi dan visi yang jelas.

* Sinergi yang lemah antar kelembagaan (pemerintah, swasta, dan masyarakat/ non-pemerintah).

* Belum memilki kebijakan dan strategi yang komprehensif dalam pengelolaan tenaga kerja migran.

* Belum ada power sharing dan pembagian wewenang yang lebih desentralistis.

2. Konteks pengembangan masyarakat dalam tulisan tersebut adalah konteks desentralisasi, otonomi daerah, dan otonomi desa (tanpa mengahapuskan wewenang pemerintah usat) sebagai suatu hasil dari interaksi atau hubungan sebab-akibat antara “proses pembangunan yang bottom-up (pembangunan berbasis komunitas atau community based development)” dan “proses pembangunan yang top-down (implementasi kebijakan-kebijakan pemerintah lokal atau local government policies).

3. Startegi pengembangan jejaring dan peranan masing-masing stakeholders dalam pemberdayaan tenaga kerja migran dan kelembagaan koperasi:

* Strategi Pengembangan Jejaring

Dalam jejaring (networking) antar-kelembagaan tersebut kelembagaan-kelembagaan dipandang sebagai modal sosial. Dalam jejaring tersebut pola-pola hubungan antar kelembaagaan bersifat horizontal maupun yang bersifat vertikal dipandang sebagai suatu strategi pengembangan modal sosial. Dan, strategi pengembangan koperasi tenaga kerja migran bertumpu pada kelembagaan-kelembagaan kooperatif dan produktif di tingkat dusun.

* Peranan Stakeholders

Stakeholders meliputi pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, swasta, koperasi, dan LSM. Setiap stakeholders memiliki peranan masing-masing dalam komunitas desa untuk memberdayakan tenaga kerja migran dan kelembagaan koperasi dalam pembangunan pedesaan di Lombok Timur.

4. Peranan pemerintah daerah dalam kerangka “sinergi” antara community based development dan local government policies, serta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan pemerintah daerah:

* Peranan Pemerintah Daerah

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur meliputi Dinas Tenaga Kerja, kependudukan dan transmigrasi, Dinas Perdagangan dan Koperasi, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan dan Peternakan, Dinas Perindustrian dan Pertambangan, Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Lombok Timur, dan badan Pemberdayaan Masyarakat Desa. Stakeholders saling bersinergi dan berperan dalam memberdayakan kelembagaan kelembagaan koperasi primer dan sekunder tenaga kerja migran tersebut.

* Kekuatan dan Kelemahan Pemerintah Daerah

Kekuatan Pemerintah Daerah Kelemahan Pemerintah Daerah
* Pembentukan UU No. 22 Tahun 1999 menjadi kekuatan bagi pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya karena otonomi daerah memungkinkan adanya desentralistis. * sinergi yang lemah, visi yang kurang jelas.

MK. Pengembangan Masyarakat                     Hari/ Tanggal: Jumat/ 23 April 2010

Praktikum ke-6                                                Ruang              : RK 16 FAC 401 C

Topik:

Manajemen Organisasi, Pekerja Pengembangan Masyarakat, dan

Pengorganisasian Gerakan Komunitas

Asisten Praktikum:

Sriwulan F

Praktikan/ NIM:

Debbie Luciani Prastiwi/ I34080059

1. Menurut Rothman dan Tropman (1987) pengorganisasian komunitas dalam kerangka pengembangan masyarakat terdiri dari tiga pola, yaitu: (1) Pengembangan komunitas lokal, (2) Perencanaan sosial, dan (3) Aksi sosial. Masing-masing pola tersebut memiliki kerangka pengembangan masyarakat yang berbeda. Perencanaan sosial lebih menekankan pada tujuan yang berorientasi pada penyelesaiaan tugas (task goal) dengan mengumpulkan data-data dan fakta-fakta untuk memudahkan di dalam penentuan teknik logis yang dapat dilakukan oleh para expert dalam menganalisis permasalahan yang ada. Komunitas cenderung berperan sebagai konsumen yang kurang mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam setiap proses pemecahan masalah. Berbeda dengan pola perencanaan sosial, pola aksi sosial cenderung menekankan pada task goal dan process. Pola aksi sosial memperlihatkan peranan aktivis yang begitu besar dalam mendobrak sistem yang ada, namun peran dan posisi komunitas cenderung kurang terlihat. Dalam bacaan Muh. Alim Sidik yang berjudul “Manajemen Organisasi, Pekerja Pengembangan Masyarakat, dan Pengorganisasian Gerakan Komunitas” proses-proses pengorganisasian komunitas desa Salebba, Sulawesi Selatan menunjukkan karakteristik yang sesuai dengan pola pengembangan komunitas lokal yang menitikberatkan pada proses pengembangan komunitas dengan kontribusi dan partisipasi aktif dari semua pihak, hal ini terlihat dari adanya peran aktif masyarakat, sekcam Ponre, Kepala Desa, tokoh masyarakat, teknisi, Kepala Dusun, dan LP2M yang saling berinteraksi satu sama lain dalam mencapai konsesus untuk memecahkan permasalahan pengadaan PLTA mini sistem turbin di desa Salebba.

2. Aktor-aktor yang terlibat dalam pengadaan PLTA di desa Salebba:

a. Facilitative Roles (Fasilitator): Kepala Desa, sekcam Ponre, tokoh masyarakat, teknisi, kepala dusun, dan masyarakat.

Peranannya:

– Memfasilitasi kegiatan pengadaan PLTA di desa Salebba,

– Memanfaatkan sumberdaya dan keahlian komunitas untuk bekerjasama,

– Menumbuhkan partisipatif dari komunitas,

– Mendengar aspirasi dan bersifat netral,

– Berusaha mencari jalan keluar (negosiasi) dari permasalahan pengadaan listrik,

– Memberi dukungan kepada komunitas,

– Membantu dalam pencapaian konsesus (PLTA mini turbin)

b. Educational Roles (Pendidik): teknisi (tenaga ahli) dari desa Mamasa.

Peranannya:

– Memberikan pengetahuan dan pelatihan pembuatan PLTA mini system turbin kepada komunitas desa Salebba,

– Menumbuhkan kesadaran pada komunitas untuk berpartisipatif dan bersama-sama mendukung kegiatan pembuatan PLTA.

c. Representational Roles (Utusan dan Wakil): Kepala Desa.

Peranannya:

– Menjalin hubungan dengan pihak eksternal dengan cara melakukan kegiatan studi banding dengan desa kabupaten Mamasa yang telah berhasil menikmati listrik deari PLTA mini sistem turbin.

d. Technical Roles (Teknisi): Teknisi dari kabupaten Mamasa.

Peranannya:

-Menyusun metode-metode untuk pembuatan PLTA mini system turbin,

-Membentuk operator mesin tingkat lokal.

3. Dalam bacaan tersebut terdapat dua proses program yang dilakukan untuk menyediakan listrik di desa Salebba. Program pertamaa, merupakan gagasan dari sekcam Ponre untuk membuat PLTA mini sistem turbin, namun program tersebut tidak berjalan dengan efektif. Program kedua merupakan kelanjutan dari gagasan tersebut, pada program kedua ini Kepala Desa melakukan pola pengembangan komunitas lokal yang melibatkan berbagai peranan dari aktor-aktor pekerja pengembangan komunitas. Program ini sustainability dan tetap bermanfaaat sampai saat ini bagi komunitas desa Salebba. Program pengembangan komunitas ini lebih menekankan pada partisipatif dari komunitas tersebut dengan bantuan dari berbagai pihak, hal ini memberikan peluang untuk keberlanjutan program. Berikut adalah matriks perbandingannya:

Program II
Program I

–       Pola pengembangan                                                      – Pola pengembangan

komunitas lokal.                                                                         Komunitas lokal.

–       Peranan aktor sebagai                                                   – Peranan aktor

fasilitator.                                                                        meliputi fasilitator,

pendidik, teknisi,

utusan atau wakil.



MK. Penerapan Komputer                                          Tanggal: 02 April 2010

MENUJU PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN MELALUI

PERTANIAN ORGANIK

Disusun oleh :

Debbie Luciani Prastiwi/ I34080059

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


DAFTAR ISI

BAB 1. 1

PENDAHULUAN.. 1

1.1      Latar Belakang. 1

1.2      Perumusan Masalah. 2

1.3      Tujuan Penelitian. 3

1.4      Manfaat Penelitian. 3

BAB II. 4

PEMBAHASAN.. 4

2.1      Penerapan pertanian organik di kalangan masyarakat petani 4

2.2      Pengaruh pertanian organik terhadap pembangunan pertanian yang berkelanjutan  6

2.3     Keefektifan dan keefisienan pertanian organik. 10

BAB III. 13

KESIMPULAN DAN SARAN.. 13

KESIMPULAN.. 13

SARAN.. 13

DAFTAR PUSTAKA.. 14

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Revolusi hijau merupakan suatu pengembangan pertanian dari pertanian tradisional menuju pertanian yang modern. Di Indonesia, revolusi hijau mulai dilaksanakan sekitar tahun 60-an. Saat itu, revolusi hijau dianggap sebagai suatu pemecahan masalah dari krisis pangan yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Bimas (Bimbingan masyarakat) merupakan suatu konsep revolusi hijau yang diterapkan di Indonesia. Program nasional tersebut bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan, dengan menitikberatkan kepada cita-cita untuk menjadi negara berswasembada beras. Pada tahun 1984, revolusi hijau mampu mengantarkan Indonesia sebagai negara berswasembada beras. Namun, predikat tersebut tidak bertahan lama. Sejak awal munculnya, revolusi hijau sudah menimbulkan permasalahan dikalangan petani. Pemerintah pada saat itu memaksa para petani untuk bertani sesuai dengan ketetapan Undang-undang Pemerintah Desa. Setiap tindakan para petani diawasi dan dikontrol oleh aparat pemerintah. Tidak ada lagi kebebasan untuk mengelola lahan pertanian sendiri. Selain membungkam kebebasan para petani, revolusi hijau juga mempengaruhi kondisi agroekosistem persawahan akibat penggunaan bahan-bahan kimia, seperti pestisida, herbisida, fungisida, dll. Banyak ahli yang menganalisis ketidakberhasilan pembangunan pertanian yang konvensional (revolusi hijau) dalam tujuan menyejahterakan masyarakat petani. Menurut Reintjes dkk. (1992), Chambers (1993), dan Uphoff (1993) dalam Mugniesyah (2006), pembangunan pertanian konvensional (Revolusi Hjau) dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut: menekankan pada komoditi tunggal (khususnya padi); mengabaikan sumber daya lahan kering, nelayan, dan lokal; bias gender; mengabaikan pengetahuan dan teknologi petani/nelayan lokal; menekankan pada penelitian yang berbasis pada pusat-pusat penelitian bukan pada usaha petani; tidak berorientasi pada sumber daya manusianya itu sendiri dan mengabaikan kelembagaan-kelembagaan.  Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dibutuhkan pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Pembangunan pertanian diartikan oleh Mosher dalam Mugniesyah (2006) sebagai suatu upaya yang mengubah proses peningkatan roduksi pertanian, perilaku petani, corak masing-masing usahatani, atau mengubah perbandingan antara biaya dan nilai hasil bagi tiap perusahaan pertanian. Pembangunan pertanian dilakukan dengan memanfaatkan beragam sumberdaya, baik berupa SDA, IPTEK, modal dan/ atau kredit, SDM, dan kelembagaan. Permasalahan dan biaya produksi yang besar dalam menerapkan pertanian konvensional mendorong para petani untuk mencari alternatif pertanian yang lain.[1] Salah satu alternatif yang dikembangkan untuk mengatasi persoalan-persoalan pertanian adalah metode pertanian organik. Pertanian organik yang oleh pakar pertanian di barat disebut sebagai “law of return”, merupakan metode yang berusaha mengembalikan semua jenis bahan organik (dalam bentuk limbah tanaman ataupun ternak) ke dalam tanah.[2]

1.2       Perumusan Masalah

Saat ini, tren organik telah melanda dunia, termasuk Indonesia. Orang semakin sadar akan pentingnya menjaga alam dan kesehatan. Para petani pun kini telah melirik jenis pertanian yang berwawasan lingkungan ini. Namun, menerapkan pertanian organik tidaklah mudah.

Makalah ini berusaha mengangkat permasalahan-permasalahan mengenai penerapan pertanian organik, antara lain:

  1. Bagaimana penerapan pertanian organik dikalangan masyarakat petani?
  2. Apakah pengaruh pertanian organik terhadap pembangunan pertanian yang berkelanjutan?
  3. Apakah pertanian organik efektif dan efisien untuk dilakukan?

1.3       Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai adalah:

  1. Menganalisis penerapan pertanian organik dikalangan masyarakat petani,
  2. Menganalisis pengaruh pertanian organik terhadap perkembangan pertanian yang berkelanjutan,
  3. Menganalisis keefektifan dan keefisienan pertanian organik.

1.4       Manfaat Penelitian

Manfaat bagi lingkungan akademik dan mahasiswa

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan akademik dan mahasiswa, yakni agar mengetahui perkembangan pertanian organik sebagai upaya membangun pertanian yang berkelanjutan meliputi keefektifan dan keefisienan dalam penerapannya.

Manfaat bagi pemerintah dan masyarakat lokal

Makalah ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pemerintah untuk berusaha membantu dan mendukung para petani untuk mengembalikan sistem pertanian yang berwawasan lingkungan. Sedangkan bagi masyarakat lokal, diharapkan dapat mengetahui manfaat produk-produk pertanian organik bagi kesehatan.

Manfaat bagi pembaca awam dan swasta

Makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada para pembaca mengenai jenis pertanian organik yang memperhatikan ekologi dan budaya lokal. Sedangkan bagi swasta, diharapkan membuat pihak swasta dapat turut peduli terhadap pertanian berwawasan lingkungan.

BAB II

PEMBAHASAN

Penerapan pertanian organik di kalangan masyarakat petani

Pertanian organik berkembang secara cepat terutama di negara-negara Eropa, Amerika, dan Asia Timur (Jepang, Korea, Taiwan). Di Asia, terutama di daratan China, pertanian organik dilaksanakan sebelum pupuk kimia diperkenalkan secara meluas pada tahun 1960. Sistem ini secara berabad-abad mampu mencukupi kebutuhan pangan penduduk terpadat di dunia yang pada saat ini telah melampaui 1 miliar. Petani China dalam mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan petanian dengan cara menambahkan endapan lumpur danau atau sungai.[3] Pertanian organik telah dikenal sejak dulu, namun pertanian organik bukanlah pertanian primitif. Pertanian organik menitikberatkan kepada sistem pertanian yang berwawasan lingkungan, serta peduli terhadap ekologi dan budaya lokal setempat. Dengan memanfaatkan limbah organik yang ramah lingkungan dan tidak memiliki residu yang berbahaya. Indonesia tentu memiliki kebudayaan lokal di setiap daerahnya. Suatu kepercayaan di dalam mengelola sumber daya alam. Hal tersebutlah yang kini berusaha di lestarikan kembali melalui suatu sistem pertanian alternatif, yaitu pertanian organik.

“Istilah pertanian organik menghimpun seluruh imajinasi petani dan konsumen yang secara serius dan bertanggung jawab menghindarkan bahan kimia dan pupuk yang bersifat meracuni lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh kondisi lingkungan yang sehat. Mereka juga berusaha untuk menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan dengan cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumber daya alami seperti mendaur-ulang limbah pertanian. Dengan demikian pertanian organik merupakan suatu gerakan ‘kembali ke alam’.”[4]

Melalui proses adaptasi, pertanian organik mulai digeluti. Saat ini perkembangannya cukup pesat. Bermunculan kelompok petani organik di berbagai daerah. Di Jawa Tengah, sentra pertanian organik terletak di Klaten, Yogyakarta, Karanganyar, Magelang, dan Kulonprogo. Di Jawa Barat: Bogor, Bandung, dan Kuningan. Di Jawa Timur: Malang, serta beberapa daerah di Bali. Pertanian organik tidak hanya meliputi sayuran, kini pertanian organik juga mencakup padi, hewan ternak, perikanan, dan hasil pertanian lainnya.[5]

Pertanian organik menerapkan suatu strategi pertanian yang memindahkan bahan-bahan organik ke dalam tanah. Penggunaan bahan-bahan kimia sedikit demi sedikit berusaha untuk ditinggalkan. Pupuk urea, TSP, dan pupuk kimia lainnya dialihkan kepada pupuk organik yang berasal dari limbah pertanian, seperti jerami, sekam padi, ampas tebu, batang jagung, kulit kacang tanah, dan limbah pertanian lainnya. Selain itu, kotoran ternak juga menjadi alternatif pupuk organik. Penggunaan bahan-bahan alami seperti tembakau dapat menjadi alternatif petisida, herbisida, dan fungisida alami. Dalam program acara tv “Menapak Desa” yang dipandu oleh Virna Arthilita sebagai host-nya menampilkan potret salah satu desa perintis pertanian organik, yaitu Desa Ciburuy, Cigombong, Jawa Barat. Dengan jumlah penduduk sekitar 9.247 jiwa. Para petani di Desa Ciburuy telah menyadari pentingnya memperhatikan alam dan lingkungan. Petani mendapatkan bimbingan dari para penyuluh pertanian dalam menerapkan pertanian organik. Pertanian organik menggunakan limbah pertanian dan kotoran hewan ternak sebagai pupuk pengganti bahan-bahan kimia yang mengandung residu sehingga ramah terhadap lingkungan dan tidak merusak ekosistem. Menurut Pak Badri, petani organik Desa Ciburuy, mengubah pertanian kimia (konvensional) menjadi pertanian organik merupakan kewajibannya sebagai seorang petani. Pertanian organik ini telah dirintisnya sejak tahun 1995. Pertanian organik merupakan pertanian masa depan dan sebagai upaya untuk menghadapi era global pasar bebas.

Pada saat ini belum banyak produk pertanian organik dari Indonesia yang dapat bersaing di pasar global, kecuali produk kopi arabika yang dibudidayakan berdasarkan prinsip pertanian organik oleh Kelompok Tani Arabika di daerah Gayo, kabupaten Aceh Tengah. Hasil kopi yang di ekspor telah memperoleh akreditasi dari Bio-Coffee IFOAM dan memperoleh label ECO dari negeri Belanda. P.T Bina Sarana Bakti, Cisarua yang membudidayakan tanaman sayuran secara organik, telah memiliki konsumen tetap dan “green shop” di Jakarta. Paguyuban Tani “Hari Pangan Sedunia”(HPS) yang berpusat di Yogyakarta telah membina ratusan kelompok tani di wilayah DIY, Jawa Tengah, dan propinsi yang lain, mendorong pemberdayaan dan kemandirian petani dengan menerapkan falsafah pertanian organik dan berkelanjutan. Beberapa produk yang telah dipasarkan adalah sayuran organik dan beras organik.[6]

Gambar 1. Hasil produksi pertanian organik DPW SPI Sumatera Barat.

Sumber: www.spi.or.id

Pengaruh pertanian organik terhadap pembangunan pertanian yang berkelanjutan

Indonesia telah mengalami berbagai situasi sejak diterapkannya revolusi hijau. Indonesia sempat menyandang predikat sebagai negara berswasembada beras, namun pernah juga mengalami keterpurukan akibat diterapkannya revolusi hijau. Saat ini, petani seolah mengalami kesulitan untuk terlepas dari belenggu kebijakan-kebijakan revolusi hijau. Beberapa petani di Indonesia masih sulit untuk meninggalkan pestisida, pupuk kimia, dll. Dibutuhkan proses untuk menempuh suatu pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

Kata “keberkelanjutan” sekarang ini digunakan secara meluas dalam lingkup program pembangunan. Keberlanjutan dapat diartikan sebagai menjaga agar suatu upaya terus berlangsung, kemampuan untuk bertahan dan menjaga agar tidak merosot. Dalam konteks pertanian, keberlanjutan pada dasarnya berarti kemampuan untuk tetap produktif sekaligus tetap mempertahankan basis sumber daya. Technical Advisory Committee of the CGIAR (TAC/CGIR 1988) menyatakan, “Pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam.”[7]

Albert Waterson dalam Bonoewidjojo (1983) menyatakan: ‘Sesungguhnya, development (pembangunan) itu artinya perubahan atau pertumbuhan.[8]

Hal tersebut menunjukkan pentingnya sistem pembangunan pertanian berkelanjutan yang berwawasan lingkungan dengan memperhatikan keberlanjutan usaha tani agar  mampu memenuhi kebutuhan manusia. Dan, pembangunan pertanian bertujuan untuk mencapai suatu perubahan yang lebih baik.

Mosher (1996) dalam Mugniesyah (2006) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan produktivitas pertanian, setiap petani semakin lama semakin tergantung kepada sumber-sumber dari luar lingkungannya. Sehubungan dengan itu, terwudnya pembangunan pertanian perlu didukung oleh apa yang disebutnya sebagai syarat-syarat pokok dan syarat-syarat pelancar pembangunan pertanian, keduanya sebagai penentu keberhasilan pembangunan pertanian.

Syarat-syarat pokok (essential) adalah semua komponen yang terdiri atas 5 aspek fasilitas dan jasa yang hars atau mutlak tersedia bagi terlaksananya pembangunan pertanian. Syarat-syarat pokok dianalogikan sebagai 5 buah ruji beserta lingkarannya yang membentuk sebuah roda, di atas mana pertanian daat bergerak maju. Karenanya tanpa salah satu diantaranya, roda (pembangunan pertanian) tidak akan bergerak. Adapun 5 syarat-syarat pokok pembangunan pertanian tersebut terdiri atas: (1) teknologi yang senantiasa berubah, (2) pasar bagi hasil-hasil usaha tani, (3) tersedianya sarana produksi pertanian atau saprotan secara lokal, (4) transportasi, dan (5) perangsang produksi bagi petani.

Syarat-syarat pelancar (accelerators) pembangunan pertanian oleh Mosher dalam Mugniesyah (2006) dianalogikan sebagai “minyak pelumas” yang dapat menyemurnakan metoda-metoda kerja dalam usaha memperlancar pembangunan pertanian di daerah-daerah dimana syarat-syarat pokok ada ataupun belum memadai. Syarat-syarat pelancar ini juga meliputi 5 aspek, yaitu: (1) pendidikan pembangunan, (2) kredit poduksi, (3) kegiatan bersama (kelompok) oleh petani, (4) perbaikan dan perluasan areal lahan pertanian, dan (5) perencanaan nasional pembangunan pertanian.

Suatu pertanian organik tidak menutup diri dari adanya perkembangan teknologi. Kepedulian terhadap lingkungan dan keterbukaan terhadap teknologi harus berjalan secara seimbang.

Ciri-ciri pertanian berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah:

  1. mampu meningkatkan produksi pertanian dan menjamin keamanan pangan di dalam negeri;
  2. mampu menghasilkan pangan yang terbeli dengan kualitas gizi yang tinggi serta menekan atau meminimalkan kandungan bahan-bahan pencemar kimia maupun bakteri yang membahayakan;
  3. tidak mengurangi dan merusak kesuburan tanah, tidak meningkatkan erosi, dan menekan ketergantungan pada sumber daya alam yang tidak terbarukan;
  4. mampu mendukung dan menopang kehidupan masyarakat pedesaan dengan meningkatan kesempatan kerja, menyediakan penghidupan yang layak dan mantap bagi para petani;
  5. tidak membahayakan bagi kesehatan masyarakat yang bekerja atau hidup di lingkungan pertanian, dan bagi yang mengkonsumsi hail-hasil pertanian;
  6. melestarikan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup di lahan pertanian dan pedesaan serta melestarikan sumber daya alam dan keragaman hayati.[9]

Gambar 2. Suasana pertanian organik.

Sumber: www.pertanianorganik.wordpress.com

Untuk masa yang akan datang, kita memerlukan sistem usaha tani dan teknologi produksi pertanian yang kompatibel dengan asas-asas lingkungan yang dapat tetap menjamin kelestarian dan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam bagi generasi mendatang. Bermacam-macam penyesuaian harus dilaksanakan tidak hanya dari teknik yang sudah di adaptasi petani tetapi juga menyangkut keseluruhan pandangan tentang usaha tani yang dilaksanakan. Mengubah praktek pertanian yang sudah berjalan harus memperhitungkan faktor-faktor lingkungan, ekologi agronomi, dan sosial ekonomi, karena faktor-faktor tersebut berinteraksi secara berbeda untuk masing-masing individu petani maupun lahan apabila dikelola secara intensif.[10] Ciri-ciri tersebut menunjukkan suatu sistem berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Pertanian alternatif berwawasan lingkungan tersebut merujuk kepada sistem pertanian organik. Pertanian organik memiliki pengaruh terhadap pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

Tabel 1. Perbandingan anatomi konsep pertanian organik dan konvensional (Ekonomi, Sosial, dan Kesehatan)

Uraian Tanaman organic Tanaman konvensional
Pilihan konsumen Disukai konsumen. Kurang disukai, karena kurang enak.
Harga Lebih adil , karena pola pasar dari produsen langsung ke konsumen. Relatif, tergantung pedagang dan distribusi yang bertingkat-tingkat.
Resiko kegagalan usaha tani Sedikit, karena ada Tumpang sari, rotasi, Lebih besar dengan peningkatan input serta wabah hama/penyakit
Kerusakan ekosistim lahan Tidak ada, dan berkelanjutan. Lebih cepat, resistensi hama pada pestisida, polusi, daur ulang biokemis tanah tidak seimbang.
Resiko social Terbebas dari ketergantungan. Menciptakan ketergantungan pada petani dan lahan.
Resiko budaya Kreatif dan menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dan kekuatan alam. Effisien, malas, dan menimbulkan sifat tamak dan serakah.
Resiko kesehatan Tidak ada Pasti , keracunan secara akut atau kronis.

Catatan : Data-data perbandingan antara pertanian organik dan konvensional berdasarkan pada pengalaman dari petani-petani organik yang menjadi rekanan PAN Indonesia.

Sumber  : www.mail-archive.com

Diakses tanggal 11 Januari 2010

Keefektifan dan keefisienan pertanian organik

Di dalam penerapan pertanian organik, para petani awalnya merasa kesulitan dengan prosedur-prosedur yang harus dilakukan dalam menerapkan  pertanian organik. Tanah yang telah tercemar bahan-bahan kimia, harus beradaptasi kembali dengan bahan-bahan alami, hal ini membutuhkan waktu atau proses yang cukup lama. Ketersediaan limbah organik juga menjadi salah satu kesulitan yang dihadapi. Namun, suatu perubahan ke arah yang lebih baik memang sepantasnya memerlukan suat pengorbanan.

Pertanian organik memiliki suatu tujuan yang positif dengan memperhatikan keberlangsungan lingkungan dan alam. Banyak yang setuju, tapi banyak pula yang meragukan. Bagi yang pro, pertanian organik dianggap sebagai solusi dari meningkatnya berbagai harga saprodi, dan pencemaran lingkungan. Namun, pendapat yang kontra, justru tak meyakininya.[11]

Menurut Notohadiprawiro (1992) dalam Sutanto (2006) menyatakan bahwa meskipun pertanian oganik dengan segala aspeknya memberikan keuntungan kepada pembangunan pertanian rakyat dan penjagaan lingkungan hidup, termasuk konservasi sumber daya lahan, namun penerapannya tidak mudah dan akan menghadapi banyak kendala. Faktor-faktor kebijakan umum dan sosio-politik sangat menentukan arah pengembangan ekonomi.

Sampai saat ini masih berkembang pemahaman yang keliru tentang pertanian organik: (1) biaya mahal, (2) memerlukan banyak tenaga kerja, (3) kembali pada sistem pertanian tradisional, serta (4) produksi rendah. Beberapa yang menjadi kendala: (1) ketersediaan bahan organik yang terbatas dan takarannya harus banyak, (2) transportasi mahal kena bersifat ruah, (3) menghadapi persaingan dengan kepentingan lain dalam mmperoleh sisa petanaman danlimbah organik, dan (4) tidak adanya bonus harga pertanian organik.[12]

Pertanian organik membutuhkan pupuk organik dalam jumlah besar, pupuk organik berasal dari hewan ternak dan limbah pertanian. Petani organik umumnya kesulitan untuk memenuhi jumlah pupuk organik yang diperlukan. Harga jual juga menjadi kendala, harga produk organik jauh lebih mahal dari produk yang dihasilkan dengan sistem pertanian yang biasa sehingga tidak semua kalangan dapat mengkonsumsinya. Konsumen produk organik umumnya adalah orang-orang yang peduli akan kesehatan dan mau membayar lebih mahal.

Namun, dibalik berbagai kendala tersebut pertanian organik dapat memberikan banyak keuntungan apabila dilakukan dengan sabar dan tekun. Pada kenyataannya para petani organik sukses membutukan waktu untuk dapat berhasil menjalani pertanan organik. Penggunaan bahan-bahan alami menjadi keuntungan dalam usaha tani ini. Saat ini, pasar global telah memiliki standar mutu dalam untuk produk yang diterima. Negara-negara maju memiliki permintaan yang besar akan produk hasil pertanian organik.

Dibalik berbagai kekurangannya, pertanian organik memiliki banyak keuntungan, pertanian organik merupakan sistem pertanian yang peduli terhadap lingkungan. Untuk saat ini pertanian organik memang belum cukup efisien untuk diterapkan. Akan tetapi, pertanian organik sangat efektif untuk pembangunan pertanian berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Pertanian organik bukanlah pertanian primitif. Pertanian organik merupakan suatu alternatif pertanian yang berwawasan lingkungan. Pembangunan pertanian berkelanjutan dapat tercapai dengan cara menerapkan pertanian organik yang tentunya memperhatikan ekologi dan budaya setempat. Penggunaan bahan-bahan alami yang tidak mengandung residu yang berbahaya dapat menjadi suatu pedoman dalam usaha tani. Banyak cara yang menjadi alternatif dalam mengurangi dampak buruk dari penggunaan bahan kimia. Pemanfaatan limbah pertanian, kotoran ternak merupakan sedikit dari banyaknya alternatif dari sistem pertanian organik. Saat ini, produk rganik mulai dikenal masyarakat dan telah memiliki pasarnya sendiri. Masyarakat dunia pun mulai peduli akan pentingnya mengkonsumsi makanan sehat. Walaupun terasa kurang efisien namun keefektifan untuk mencapai pembangunan pertanian berkelanjutan dapat ditempuh melalui kegiatan pertanian organik.

SARAN

Saran yang penulis berikan untuk makalah selanjutnya, yaitu:

  1. Dibutuhkan suatu penelitian untuk mengetahui sejauh mana keefektifan dan keefisienan pertanian organik untuk dilakukan,
  2. Dapat mengangkat permasalahan mengenai pemasaran produk hasil pertanian organik,
  3. Dapat mengetahui secara lebih mendalam mengenai keterkaitan pertanian organik dengan usaha pengembangan pertanian berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. t.t. Hasil Produksi Pertanian Organik DPW SPI Sumatera Barat. http://www.spi.or.id (4 Januari 2010).

[Anonim]. t. t. Pertanian Organik. http:// www.pertanianorganik.wordpress.com (4 Januari 2010).

[Anonim]. 2000. Istilah Pertanian Organik. http://www.mail-archive.com/rantau…com/…/Istilah_pertanian_organik.rtf (11 Januari 2010).

Banoewidjojo, Moeljadi. 1983. Pembangunan Pertanian. Surabaya: Usaha Offset.

Mugniesyah, Siti Sugiyah M. 2006. Penyuluhan Pertanian Bagian 1 : Peranan Penyuluhan Pertanian dalam Pembangunan Pertanian. Bogor: IPB Press.

Reijntjes Coen, Haverkort Bertus, dan Waters-Bayer Ann. 2006. PERTANIAN MASA DEPAN, Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah.. Y. Sukoco, SS, penerjemah. Yogyakarta: Kanisius. Terjemahan dari: FARMING FOR THE FUTURE, An Introduction to Low-External-Input and Suitainable Agriculture.

Shardi D dan Utami KP. 2000. Pertanian Organik Kian Marak. Dalam: Trubus Edisi Februari  No. 363: 7.

Sutanto, Rachman. 2006. Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Yogyakarta: Kanisius.

Utami KP. 2000. Kisah Sedih Pertanian Peduli Alam. Dalam: Trubus Edisi Februari No. 363: 11.


[1] Siti Sugiyah M, Penyuluhan Pertanian Bagian 1 : Peranan Penyuluhan Pertanian dalam Pembangunan Pertanian (Bogor: IPB Press., 2006), p.

[2] Rachman Sutanto, Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan (Yogyakarta: Kanisius, 2006), p. 193.

[3] Ibid, p. 22.

[4] Ibid, p. 20.

[5] Shardi D dan Utami KP, Pertanian Organik Kian Marak, Dalam: Trubus Edisi Februari  2000 No. 363, p. 7.

[6] Rachman Sutanto, op. cit. , p. 137.

[7] Coen Reijntjes, Bertus Haverkort, dan Waters-Bayer, Pertanian Masa Depan (Yogykarta: Kanisius, 2006 ed), p. 2.

[8] Moeljadi Banoewidjojo, Pembangunan Pertanian (Surabaya: Usaha Offset, 1983), p. 11.

[9] Rachman Sutanto, op. cit. , p. 85.

[10] Ibid, p. 83-84.

[11] Utami KP, Kisah Sedih Pertanian Peduli Alam, Dalam: Trubus Edisi Februari  2000 No. 363,p. 11.

[12] Rachman  Sutanto, op. cit. , p. 195.